Kamis, 16 Oktober 2014

RASA TAKUT ABU BAKAR RA.


Semua Penganut Ahlusunah Wal Jamaah Sepakat, bahwa Abu Bakar Shiddiq r.a adalah yang paling utama dikalangan sahabat nabi Saw dan seluruh anbiya selain anbiya a.s, Rasullulah Saw, pernah menyampaikan berita Gembira kepada Bahwa dia akan menjadi pemimpin jemaah disurga nanti dan semua pintu surge akan mmanggil nama Abu Bakar R.A. Nabi Saw pernah bersabda “Orang yang pertama masuk surga dikalangan umatku adalah Abu Bakar R.A. “
Namun demikian Beliau masih memiliki perasaan Takut (Khauf) Yang tinggi kepada Allah Swt,. Beliau sering berkata “alangkah baiknya seandainya saya menjadi sebatang pohon yang kemudian kan ditebang dan akan dijadikan kayu Bakar. “ Kadang Abu Bakar R.A berkata Alangkah baiknya kalau saya sehelai rumput yang kan habis dimakan binatang ternak .”
Rab’ah Aslami r.a. Bercerita, “suatu hari saya pernah bertengkardengan Abu Bakar R.A, dalam pertengkaran itu dia mengeluarkan kata-kata kasar kepada saya, Namunia menyadari kesalahnya “Ucapkanlah kata kata kasar sebagai balasanya kepadaku. “ tetapi saya menoolaknya . Ia berkata , “ ia berkata , Kalau tidak saya akan mengadukanya kepada Rasullulah aw. “ saya tetap tidak mau mengalah, maka ia berdiri lalu meninggalkan saya.
Beberapa orang dari bani Aslam yg menyaksikan peristiwa ini berkata aneh sekali orang ini dia yg memulai dia sendiri yg akan mengadukan kpd rasulullah Saw ,saya berkata kpd mereka ,tahukah kalian siapa dia?dia adalah abu bakar ,menyakitinya berarti menyakiti Rasulullah. dan menyakiti Rasulullah berarti menyakiti Allah siapakah yg dpt menyelamatkan saya ? setelah berkata demikian saya berdiri, lalu pergi menemui Rasulullah Saw saya menceritakan peristiwa tadi kepada beliau Rasulullah Saw berkata keenggananmu membalas itu memang baik tetapi utk menyenangkan hatinya sebaiknya engkau berkata semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar.

Rabu, 15 Oktober 2014

Kisah Umar bin Khattab menangis karena rakyatnya kelaparan

Kisah Umar bin Khattab menangis karena rakyatnya kelaparan


Saat menjabat sebagai Khalifah, Umar bin Khattab pernah menghadapi cobaan yang cukup berat. Saat itu, umat Islam dilanda paceklik karena masuk dalam tahun abu.

Di tahun itu, semua bahan makanan sulit didapat. Hasil pertanian sebagian besar tidak dapat dikonsumsi, sehingga menyebabkan umat Islam menderita kelaparan.

Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab mengajak seorang sahabat bernama Aslam menjalankan kebiasaannya menyisir kota. Dia hendak memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar.

Sampai pada satu tempat, Umar dan Aslam berhenti. Dia mendengar tangisan seorang anak perempuan yang cukup keras. Umar kemudian memutuskan untuk mendekati sumber suara itu, yang berasal dari sebuah tenda kumuh.

Setelah dekat, Umar mendapati seorang wanita tua terduduk di depan perapian sambil mengaduk panci menggunakan sendok kayu. Umar kemudian menyapa ibu tua itu dengan mengucap salam.

Si ibu tua itu menoleh kepada Umar dan membalas salam tersebut. Tetapi, si ibu kemudian melanjutkan kegiatannya.

"Siapakah yang menangis di dalam?" tanya Umar kepada ibu tua.

"Dia anakku," jawab ibu tua itu.

"Mengapa dia menangis? Apakah dia sakit?" tanya Umar lagi.

"Tidak. Dia kelaparan," jawab si ibu.

Umar dan Aslam kemudian tertegun. Setelah beberapa lama, keduanya merasa heran melihat si ibu tua tak juga selesai memasak.

Untuk mengatasi rasa herannya, Umar kemudian bertanya, "Apa yang kau masak itu? Kenapa tidak matang juga?"

Si ibu kemudian menoleh, "Silakan, kau lihat sendiri."

Umar dan Aslam kemudian menengok isi panci itu. Mereka seketika terkaget menjumpai isi panci yang tidak lain berupa air dan batu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Umar dengan sangat kaget. Si ibu menjawab dengan menganggukkan kepala.

"Untuk apa kau masak batu itu?" tanya Umar lagi.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang sedang kelaparan. Semua ini adalah dosa Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sejak pagi aku dan anakku belum makan sejak pagi. Makanya kusuruh anakku berpuasa dan berharap ada rezeki ketika berbuka. Tapi, hingga saat ini pun rezeki yang kuharap belum juga datang. Kumasak batu ini untuk membohongi anakku sampai dia tertidur," kata ibu tua itu.

"Sungguh tak pantas jika Umar menjadi pemimpin. Dia telah menelantarkan kami," sambung si ibu.

Mendengar perkataan itu, Aslam berniat menegur si ibu dengan mengingatkan bahwa yang ada di hadapannya adalah sang Khalifah. Namun, Umar kemudian menahan Aslam, dan segera mengajaknya kembali ke Madinah sambil meneteskan air mata.

Sesampai di Madinah, tanpa beristirahat, Umar langsung mengambil sekarung gandum. Dipikulnya karung gandum itu untuk diserahkan kepada sang ibu.

Melihat Umar dalam kondisi letih, Aslam segera meminta agar gandum itu diangkatnya. "Sebaiknya aku saja yang membawa gandum itu, ya Amirul Mukminin," kata dia.

Dengan nada keras, Umar menjawab, "Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan?"

Aslam pun tertegun mendengar jawaban itu. Dia tetap mendampingi Khalifah mengantarkan sekarung gandum itu kepada si ibu tua.

menagapa doa sulit dikabulkan


Mengapa Do'a sulit terkabul

Hambaku meminta, maka akan Aku kabulkan, demikianlah janji Allah kepada hambanya, sedangkan janji Allah itu pasti, tidaklah seperti janji manusia yang sering di ingkari, namun pertanyaannya adalah mengapa dalam kenyataannya begitu sulit do'a itu dikabulkan?, bahkan setelah mencari-cari tempat yang makbul, do'a yang makbul serta cara yang makbul sekalipun, tetap saja terasa sulitnya do'a itu terkabul, padahal janji Allah sedemikian pastinya, hal ini tentu saja dapat atau mudah membuat orang menjadi frustasi, dikarenakan do'a nya tidak terkabul terus, padahal dia telah berusaha dengan segala cara, bahkan dikarenakan frustasinya, orang menjadi nekat untuk meminta kepada selain Allah, melalui dukun ataupun menjual jiwanya kepada syaitan, sungguh sangat di sayangkan demi terpenuhinya keinginan orang sampai rela  diri.

Pertama-tama kita akan mencoba untuk mengamati hubungan antara Robb dengan hambanya, bagaimanakah seharusnya seorang hamba sejati terhadap rajanya, tentunya seorang hamba akan tunduk, takluk, taat, hormat, setia, membela, menjaga serta meninggikan rajanya, demikian hubungan hamba dengan rajanya, dapat dibayangkan betapa hubungan antara hamba sejati dengan tuhannya, yang seharusnya jauh lebih hebat dibandingkan terhadap rajanya, namun kenyataan yang umum terjadi adalah keluh kesah, tidak sesuai keinginan, serta beribu-ribu alasan lainnya yang pada dasarnya adalah berkeberatan atas ketentuan dan rencana tuhannya yang Maha Sempurna lagi Maha Mengetahui, Allah lah yang menciptakan manusia, tentu saja hanya Allah saja yang mengetahui apa yang terbaik bagi setiap manusia pada setiap saatnya, sebagaimana Allah berkata, bahwa apa yang baik menurut kamu belum tentu baik di mata Allah dan apa yang buruk menurut kamu bisa saja baik di mata Allah, inilah salahsatu kemungkinan tidak terkabulnya do'a yang dikarenakan tanpa kita sadari bahwa pada saat itu kita sedang berpaling dari kehambaan kepada Allah, yang tentu saja janji Allah adalah hanya untuk hambanya.


Kemudian kita coba pula untuk mengamatinya dari sisi pertentangan do'a itu sendiri, misal kita berdo'a untuk meminta sesuatu yang sebenarnya tidak baik bahkan mungkin saja sangat berbahaya bagi kita, sedangkan Allah tentu saja sangat mengetahui apa yang baik bahkan yang terbaik, juga sangat mengetahui apa yang buruk bahkan yang terburuk bagi kita pada setiap saatnya, Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang sangat menyayangi hambanya, bahkan kita pun dalam berdo'a sudahlah selayaknya mengawali do'a itu dengan Basmallah, yang berarti pula kita memohonkan kepada yang Maha Pengasih agar di kabulkan, sekaligus kita memohonkan pula kepada yang Maha Penyayang untuk melindungi kita dari permintaan yang dapat mengakibatkan keburukan bagi kita sendiri, maupun bagi orang lain, sebagaimana kita menyayangi anak-anak kita, tentu saja karena sayangnya kepada si anak, kita tidak akan menuruti permintaan si anak seandainya permintaanya dapat membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain dikarenakan belum mengerti betul dengan apa yang dimintanya, misalnya anak balita ingin bermain-main dengan pisau atau gunting yang tajam, namun bila mereka sudah cukup besar dan sudah mengerti, tentu kita akan memberikannya, atau kita akan memberitahukan bahwa nanti kalau sudah besar tentu akan di berikan.


Tentu saja lain halnya apabila kita memintanya kepada selain Allah, kepada manusia lain misalnya, yang sama-sama kurang ataupun tidak mengerti, yang juga kepunyaannya sangatlah terbatas, tentu bila memiliki akan memberi walaupun akibatnya dapat menjadi berbahaya, sedangkan bila tidak punya tentu saja tidak dapat membantu, apalagi bila kita meminta kepada musuh manusia yang penuh iri dengki, yaitu syaitan yang juga penuh keterbatasan, bila ia mampu tentu hanya akan membantu kepada yang membawa keburukan, kalaupun ia tidak mampu, ia akan membujuk kita untuk berkeluh kesah, berpayah-payah diri juga mendorong kita dengan fitnahnya agar berputus asa.

KISAH UMAR BIN KHATAB MASUK ISLAM

Peristiwa masuk Islamnya Umar bin Khathab menjadi bukti Mukjizat Al Qur'an : Tatkala tiba di depan pintu rumah adiknya, lantunan ayat Al-Quran yang dibaca oleh Fatimah semakin jelas terdengar. Umar pun mendobrak pintu dan mendapati pasangan suami istri tersebut sedang membaca lembaran Al-Quran. Umar bin Khattab, seorang tokoh bangsawan Quraisy, marah besar ketika mendengar kabar bahwa adik kandungnya, Fatimah binti Khattab, masuk Islam. Dia pun bergegas mendatangi rumah adiknya tersebut. Dari kejauhan, Umar mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang sedang dibaca oleh adiknya. Umar menghentikan langkahnya, dia mencoba mendengarkan lantunan ayat tersebut dengan saksama. Umar pun kagum dengan syair Al-Quran yang begitu indah, tetapi dia tetap meneruskan niatnya untuk membunuh adik (beserta suaminya) yang telah keluar dari agama nenek moyang mereka. Tatkala tiba di depan pintu rumah adiknya, lantunan ayat Al-Quran yang dibaca oleh Fatimah semakin jelas terdengar. Umar pun mendobrak pintu dan mendapati pasangan suami istri tersebut sedang membaca lembaran Al-Quran. Ditamparnya mereka hingga berdarah. Setelah menerima tamparan tersebut, Fatimah binti Khattab berkata kepada Umar, "Kami telah masuk Islam dan kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lakukanlah apa yang akan kamu lakukan." Melihat darah yang menetes dari muka adik kandung dan adik iparnya, Umar terdiam. Masih dengan nada marah, dia lalu meminta lembaran yang tadi dibaca Fatimah. Namun, Fatimah menolak karena takut Umar akan merobeknya. Akhirnya, Umar pun menyuruh Fatimah untuk membacakannya. Fatimah pun membaca surat Thaahaa ayat satu sampai lima. Mendengar lantunan ayat suci tersebut, tak terasa Umar meneteskan air mata dan pada saat itu juga dia pun masuk Islam.(dm)

Selasa, 15 Juli 2014

desa sumber mulia

Peta : desa Sumber Mulya, kecamatan Lubai Ulu, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Peta ini diproses menggunakan google maps